LADIES TRIP, MENGARUNGI SINGAPURA – PHNOM PENH DAN HO CHI MINH ALA BACKPACKER 8-12 MARET 2013 Phnom Penh – Cambodia

Phnom Penh – Cambodia

Jam 1 tepat pesawat take off, perjalanan ke phom penh memakan waktu 2 jam, tapi waktu di phnom penh sama dengan Jakarta, jadi mundur sejam, artinya kita sampai disana pukul 2 siang. Waktu di ruang imigrasi, ada satu hal yang bikin gue miris. Kalau yang pernah pulang ke Bandara Soeta terutama di terminal 3, lo ngerti kan antriannya kayak apa? Petugas imigrasi kita ga sebanding sama penumpang yang dateng, lo bisa antri sampai 1 jam sendiri, tapi di bandara phnom penh, dengan luas yang lebih kecil dari terminal 3, petugas imigrasinya cukup banyak, yang bikin gue nganga adalah…E-gate untuk penumpang lokal!!!. E-gate!!!…yang di Soeta katanya baru akan diuji coba. Lo tinggal scan paspor lo, gate akan terbuka, trus lo masuk ruang kecil yang ada komputernya, lo scan lagi paspor lo di layar tersebut dan tralala, terbukalah gate untuk masuk ke bandara..no more petugas…damn..damn..damn..

Satu lagi yang beda di phnom penh, untuk transaksi, selain dengan mata uang lokal, lo bisa transaksi dengan dolar, yep dolar…Disini 1 dolar lusuh juga laku, ga perlu dielus2 kayak di Indonesia. Kalau mereka gak punya kembalian, baru mereka ganti pake uang lokal, jadi disini ga perlu nuker uang dolar lo di money changer.

Di phnom penh, taxinya juga gak se-extrim kayak di Hanoi atau HCMC, kita uda dibilangin pihak guesthouse tempat kita nginap, biaya taxi ke penginapan sekitar 9 USD per taxi. Kita pakai 2 taxi, menuju ke guesthouse kita memakan waktu 30 menit.Oya untuk di phnom penh gue booking via Hostelworld.com, nginepnya di Velkommen guesthouse, rencananya kita nginep 2 malam di sini, biaya nya per orang USD 6/malam. Kamarnya private, alias kamar mandi didalam, full AC, ada deposit box, kulkas, dan TV Kabel. Keren kan? Hmm di Jakarta, ada gak ya yang semurah ini dengan fasilitas tadi?

Velkommen guesthouse letaknya di dekat riverfront, atau pinggiran sungai, sungainya namanya Tonlesap, itu adalah anak sungai Mekong.Daerah riverfront ini adalah daerah backpakernya disini. Deket pasar becek, gw emang sengaja pilih disini karena tidak ada yang paling asik jika kita berada di tempat asing selain bisa berbaur dengan masyarakat lokal. Itu pengalaman yang gak akan lo lupain. Masyarakat lokal tidak perlu mengerti bahasa kita, tapi jika kita berempati pada lingkungan kita, maka lingkungan pun akan berempati pada kita, believe it dan lo akan menemukan keajaiban yang gak lo sangka2.Ga percaya? Kita ngalamin disana….

Setelah beristirahat sesaat, staf hostel menanyakan kepada kita mau kemana aja sore ini? Mereka menyarankan beberapa tempat, mau jalan bisa, mau naik tuk-tuk juga bisa.Merekapun menawarkan untuk nego dengan sopir tuk-tuknya.Sesuai saran mereka, kita naik tuk-tuk, satu tuk-tuk bisa untuk ber-4.Untuk puter2 selama 3-4 jam, bayarannya 5 dolar per tuk-tuk. Sesuai saran dari staf guesthouse, kita memulai perjalanan kita dengan mengunjungi central market, independent monument, wat phnom, kantor pos, dan national library. Dari semua tempat, hanya di Wat Phnom kita harus bayar tiket sebesar USD 1, bangunannya seperti temple, kita harus menaiki beberapa anak tangga untuk keatasnya. Kita juga menyempatkan diri berfoto ria di depan kantor pos. Jalan2 sore ini diakhiri di Night Market, atau Pasar Malam yang buka pada hari Jumat-Minggu. Untuk turis, sebenarnya ada pasar yang terkenal di Phnom Penh, namanya Rusian Market, tapi Rusian Market hanya buka jam 8 pagi hingga jam 5 sore, jadi kita memilih ke Night Market, sekali lagi, berbaur dengan masyarakat lokal pasti jauh lebih menarik dan lebih exciting.

Rusian Market dan Night Market

Rusian Market dan Night Market

Akhirnya kita mulai lah perburuan souvenir di Night Market, semakin malam, semakin ramai pasar malam yang katanya baru tutup jam 12 malam. Untuk anak backpakeran, ada dua souvenir wajib yang harus dibeli..apa? betul gantungan kunci dan tempelan kulkas…hehehe. Harga tawar menawar untuk satu tempelan kulkas sebesar 0.5 dolar, atau 1 dolar dapat dua, sedangkan satu set gantungan kunci isi 6, dihargai 2.5 dolar, atau 5 dolar dapat 12 gantungan kunci. Untuk kaos-kaosnya, setelah tawar menawar, kita membeli seharga 6 riel untuk kaos yang kecil dan 7 riel untuk kaos yang lebih besar.Kurs dolar terhadap riel, 1 dolar itu 3,700 riel. Gue juga beli dompet, tadinya harganya 5 dolar, setelah tawar menawar, gue dapat 2 dolar, tapi dengan syarat gue harus ambil 5. So, oke lah…Beberapa ladies berbelanja celana kulot, rok motif kamboja, dan hem juga dengan motif kamboja, harganya rata2 5 dolar.

Waktu sudah menunjukkan jam 7.30 malam, kita pun sepakat untuk cari makan malam. Something happened…member kita kurang 1? Yep, mbak tita menghilang dari rombongan, bayangin paniknya kita, bukan apa2, ini kan di negeri orang, kita ladies pula. Gue uda bilang jangan suka pisah rombongan, kalaupun ada keperluan harus saling memberi tahu….setengah jam kita menunggu, masing2 dari kita gentian putar2 pasar, mila dan aliet malah lebih nekat, kebetulan di lokasi pasar malam ada panggung musik, mereka pun minta izin untuk membuat pengumuman…so bayangin  di pasar malam di Kamboja, dalam suatu panggung musik, tiba-tiba ada yang halo2..Perhatian untuk mbak tita..mbak tita dari rombongan Mbak dinna dari Jakarta Indonesia, ditunggu di pintu masuk/gerbang….miris..tapi lucu wkwkwkw….

Sudah hampir sejam, Mbak tita belum juga muncul, polisi setempat sudah kita beri tau dan beranjak untuk melakukan pencarian, and you know what…akhirnya dari sebrang jalan, mbak tita keliatan, and dia kemana? Dia pulang sendiri ke guesthouse!!!! Beberapa ladies keliatan kesal, gue juga sih, karena rules dalam perjalanan ini, tidak boleh berinisiatif sendiri dalam melakukan perjalanan, tidak berasumsi sendiri, karena, dalam satu rombongan kita harus saling jaga, atau at least bisa info sebelum memisahkan diri dan janjian jam berapa kita mau ketemu dan dimana, kita cari lokasi yang paling mudah dicari. Well, pelajaran selanjutnya dalam trip ini, semoga tidak terjadi lagi…

Karena sudah lelah, kita putuskan cari tempat makan, di sini pilihan makanannya lebih beragam, dan restoran halal pun ada di beberapa tempat.Namun yang kita cari adalah berdasarkan info yang gue dapat dari blognya temen gue Arel, ada restoran Indonesia yang namanya Warung Bali, gak jauh dari tempat kita tinggal, karena belum ngerti jalan2 nya dan sudah malam, kita putuskan naik tuk-tuk, Kita sudah kasi alamatnya ke tuk-tuk, tapi putar2..warungnya gak ketemu2 juga, duh dimana sih, kita pun berhenti untuk bertanya kepada masyarakat lokal. Untungnya masyarakat yang kita Tanya bisa berbahasa inggris.Satu pasang keluarga sedang asik ngobrol di luar. Aku kasih no telp warungnya, dan dia pun membantu menelponkan, tidak lama, dia segera bicara dalam bahasa kamboja kepada supir tuk-tuk, mungkin untuk kasih tau ancer2nya..oh so sweet deh, makasi banyak ya mas..mbae atas bantuannya, setelah berjalan sebentar, akhir sampai juga kita di warung bali.

Sampai warung bali, kita disambut oleh Mas Firdaus dan Mas Kasman, pemilik warung bali, sebenarnya warungnya jam 9 uda mau tutup, tapi karena melihat kita wanita-wanita cantik…hihihi yang pada kelaparan..so diapun dengan senang hati menyambut kita. Waduh happy banget liat menu makanan disini, semua menu Indonesia lengkap, tapi yang paling ganjel pastinya satu…nasi goreng…hahaha. Gue sendiri pesan ayam goreng mentega dan tempe goreng, dua lauk favorit gue..hadeuh nikmatnya …we eat like crazy…bener2 kayak masakan di rumah..

Restoran Indonesia - Warung Bali

Restoran Indonesia – Warung Bali

Sambil makan, mas firdaus pun bercerita tentang sejarah warung bali, jadi dulunya dia dan mas kasmin adalah koki di kedutaan tahun 80an, sampai 3 periode dubes, mereka kemudian bergabung ke café bali, sayangnya setelah 7 tahun, café bali tutup karena, kontrak rumahnya tidak diperpanjang lagi oleh pemiliknya. Mas firdaus dan mas kasmin pun sepakat bikin warung bali, dan Alhamdulillah bisa berdiri hingga saat ini. Sekarang warung bali punya koki orang lokal juga..oya waitress nya ganteng lo..Mas Agus…yang jadi kecengan ladies jomblo kita hahaha.Sayangnya hari pertama ketemu si agus ne rada cool gitu, gue bilang ke ladies, nanti juga keracunan, kalo kita balik terus hihihi….Sebelum pulang kita pesan nasi dan lauk untuk sarapan pagi. Maklum di guesthouse tempat kita nginap tidak menyediakan sarapan…gratis..hehehe.

Menuju arah pulang, kita baru sadar kalau ternyata posisi warung bali deket banget sama guesthouse tempat kita nginap, jalan 10 menit, eh sampe..duh…padahal tadi pake tuk-tuk muter2 nya gak jelas…ampun…Sampai guesthouse kita sudah lelah berat..masuk kamar tepar…..

Pagi harinya, gue ma aci uda bangun lebih dulu, kita bedua sepakat jalan-jalan pagi sambil liat matahari terbit di pinggir sungai tonlesap. Anak2 lain masih bertumbangan di tempat tidur…kasian capek juga mereka. Suasana di pinggir sungai sudah ramai dengan orang lokal yang sedang asik berolahraga, ada juga yang sedang duduk-duduk santai sambil menunggu matahari terbit.Kita berjalan menuju Sisowath Quay dengan kibaran bendera2 negara internasional, burung-burung merpati beterbangan sekitar       quay, banyak masyarakat yang menjajakan jagung untuk member makan burung-burung ini agar mereka tetap berkumpul. Tidak lama matahari mulai terlihat diatas sungai Tonlesap…what a view..

Sungai Tonlesap dan Sisowath Quay

Sungai Tonlesap dan Sisowath Quay

Setelah bersantai2 selama 1 jam, kita kembali ke guesthouse, namun sebelumnya kita mampir ke pasar lokal untuk membeli beberapa buah2an seperti pisang, jambu air dan mangga. Pedagangnya dengan senang hati meminjamkan pisau dan memberikan kantongan plastic untuk mangga yang kita potong, sambil duduk2 kita meluangkan waktu mengobrol dengan masyarakat lokal, ada beberapa yang bisa bahasa inggris, yang lain hanya senyum2 saja melihat kita bicara…kagum..aneh atau bingung??? Hehehe

Jam 8 delapan pagi kita sudah siap di lobi, lucky sopir tuk-tuk yang mengantar kita kemaren sudah siap mengantar kita kembali. Setelah nego, kita sepakat dengan biaya usd 15 per tuk-tuk untuk perjalanan dari jam 8 hingga jam 5 sore. Lucky bisa berbahasa inggris, jadi lebih mudah berkomunikasi dengan dia. Sebelum memulai perjalanan, kita minta lucky antar kita ke agen tiket Mekong Express, untuk membeli tiket bis Phnom Penh – HCMC pada Senin pagi, 11 Maret 2013. Harga tiketnya USD 13 per orang, trus ada fasilitas jemput, asik, jadi Senin kita dijemput di Hotel.

So perjalanan jalan-jalan seputar Kamboja kita mulai dari tempat yang agak menjauh dari kota, Tuol Sleng/S-21 Prison atau Museum of Genoside, disinilah penjara tempat para pemberontak yang melawat rezim Khmer Merah yang dipimpin oleh Polpot, ditahan, disiksa dan dibunuh. Masuk tiap ruangan di penjara ini bikin bulu kuduk berdiri.Melihat foto2 lebih dari 20rb korban penyiksaan termasuk wanita dan anak-anak rasanya menyayat hati.Gak sanggup deh kalau liat hal-hal yang berhubungan dengan anak-anak.Jujur kita gak bisa lama2 disini, gak ada 1 jam kita memutuskan kabur dari Musium ini. A full respect to all the victim who died there….

Tuol Sleng-S-21 Prison atau Museum of Genoside

Tuol Sleng-S-21 Prison atau Museum of Genoside

Dari Tuol Sleng, kita lanjut ke Killing Field, tempatnya jauh…. banget, trus polusi udaranya itu loh yang gak nahan, tapi ternyata Lucky uda siap dengan masker..katanya memang daerah ini polusinya tinggi, jadi kita dikasih masker satu-satu. Agak lama perjalanan ke Killing field, karena macet yang luar biasa, sampai disana, sebelum masuk, kita harus membayar tiket sebesar 5 USD..wow lebih mahal dari Tuol Sleng, dengan harga tiket sebesar itu, tentu kita berharap ‘sesuatu’ yang lebih dari sini. Tapi jujur ternyata tempat ini tidak lebih menakutkan dari Tuol Sleng.Yang menarik adalah monument ‘memorial stupa’ yang berisi puluhan ribu tengkorak para korban kejahatan Khmer Merah, juga museum yang menayangkan video dan foto-foto sejarah masa-masa kelam tersebut.Ada foto yang menarik di museum ini, yaitu bagaimana mereka membunuh bayi-bayi yang merupakan anggota keluarga pemberontak. Oh Dear God..Sorry, mungkin bisa baca tentang gambar ini dari referensi lain…so sad to tell. The rest of the field… adalah hamparan tanah luas..yang merupakan ladang pembantaian para korban pasukan Khmer Merah. Beberapa tempat diberi nomor dan penjelasan melalui audio rekaman suara mantan korban yang berhasil selamat pada waktu itu.Ladang ini merupakan kuburan mereka yang dibunuh oleh Pasukan Pol Pot, juga mereka yang mati di Penjara S-21.Killing Field berarti ladang pembunuhan…But honestly, kita tidak merasakan kemerindingan yang sangat di tempat ini seperti di Tuol Sleng…so agak kecewa juga si…uda jalan agak jauh…polusi, ya tempatnya not as hope…but still, respect to all victims who had died here.

Killing Field

Killing Field

Killing Field

Killing Field

Selesai dari Killing field, kita melanjutkan perjalanan ke sebuah mesjid di sekitar Russian market, karena hari sudah menunjukkan jam 12 siang. Namanya masjid Jami al Islami, dekat Kedutaan China juga. Lumayan lah bisa ngadem…selesai solat, karena sudah lapar berat, kita meminta lucky untuk membawa kita ke warung bali…tapi sampe sana waakss penuhnya rek, lagi ada arisan orang Indonesia di kamboja ternyata hahaha…akhirnya kita memutuskan maksi di halal restoran milik orang kamboja asli, masakannya campur dari Indonesia, Malaysia dan kamboja, harganya juga lumayan murah…rasa? Backpaker hanya punya dua rasa, enak dan enak bangeetttttt, yang ini kategorinya enak lah….

Masjid Jami al Islami dan Warung Bali

Masjid Jami al Islami dan Warung Bali

Selesai maksi, kita melanjutkan perjalanan ke sebuah toko, kebetulan anis dan syifa harus beli bendera pesenan dari Jakarta, nah di toko ini koleksinya lumayan lengkap, gak terlalu lama, karena setelah itu kita segera meluncur ke Royal Palace, atau Istana Kerajaan Kamboja. Bayar masuk ke dalamnya lumayan mahal dibanding tempat-tempat lain, USD 6.5, tapi karena ini wisata wajib kita, makanya kita bela2in masuk deh..hehehe.

Luas Istana ini katanya sekitar 16 hektar, berdampingan dengan kompleks Royal Palace ini adalah Silver Pagoda.Beberapa bangunan di kompleks ini sedang direnovasi, sedangkan bangunan utama Istananya adalah Throne Hall. Gedungnya paling gede dan mencolok sendiri dengan warna keemasannya, di dalamnya juga, sayang gak bisa difoto..hiks. Di Silver Pagoda, ada upacara keagamaan, turis dipersilahkan masuk, tapi wakss penuh banget, akhirnya kita milih foto2 aja di luar, tempatnya asik juga buat foto session para fotomodel amatiran ini hehehe. Seru deh…

Royal Palace atau Istana Kerajaan Kamboja

Royal Palace atau Istana Kerajaan Kamboja

Setelah menikmati Royal Palace, waktu sudah menunjukkan jam 4.30 sore, dan kita sudah lelah luar biasa, so…kita memutuskan kembali ke guesthouse untuk beristirahat, thanks a lot ya lucky sudah antar kita putar-putar kamboja…sayang gue kehilangan id facebooknya, jadi gak bisa promosiin dia deh..tapi lucky adalah sopir tuk-tuk langganan velkommen guesthouse, jadi kalo ada temen-temen yang nginep disana bisa request di anter lucky…

Sampai guesthouse, semua sudah lelah, dan tepaarr, termasuk gue, ketiduran dan tau2 udah jam 18.30..untung maghrib disana memang jam segitu, jadi gak kelewatan. Habis mandi dan sholat, jam 19.30 kita turun ke lobbi dan segera jalan menuju Warung bali untuk makan malam…Pak Fir menyambut kita dengan senang hati, sekaligus minta maaf karena tadi makan siang tidak bisa menjamu kita…eh Agus sudah lebih ramah lo, hahaha, trus di samping meja kita ada segerombolan cowok Amrik yang ganteng2 hihihi, duh bener2 cuci mata banget deh….

Ketika sedang makan, ada opa2 bule yang masuk, Pak Fir menyambutnya karena sepertinya sudah kenal, tadinya Pak Fir bilang meja sudah penuh, tapi kita bilang ke Pak Fir, meja kita masih ada satu, gpp beliau gabung…wahh seneng sekali Opa ini, ternyata dia sudah sering ke Phnom Penh dan selalu makan di warung bali…why?  Eeh tau gak si ternyata opa2 pernah tinggal di Indonesia lamaaa… dan jago bahasa Indonesia…..Opa Hans namanya, seneng banget bisa duduk dan bercerita-cerita dengan Beliau. Beliau pensiunan dosen Kimia di Belanda, sering jadi dosen tamu di Indonesia terutama di Jakarta dan Bandung. Istrinya sudah meninggal dan anaknya sudah menikah semua….jadi sekarang dia senang-senang traveling sendirian..wow keren….Opa hans paling suka makan gado-gado, trus tempe dikasih sambel terasi hahaha, wah mantap deh, kayak orang Indonesia banget…saking asiknya ngobrol, kita lupa kalau kita masih harus balik ke night market. Ehh tau gak si…Si Agus menawarkan diri untuk jadi bodyguard kita malam itu hihihi, wah ladies jomblo kita happy banget….sebelum pergi, kita say goodbye dengan Pak Fir, karena besok kita sudah melanjutkan perjalanan ke HCMC.

Opa Hans dan Mila (cocok ya)

Opa Hans dan Mila (cocok ya)

Setelah say goodbye dengan Opa hans yang masih makan, kita segera ke night market, bukan belanjanya sih yang asik, tapi karena ditemani mas agus yang ganteng makanya para ladies jadi happy…selesai belanja kita ngobrol-ngobrol di pinggir sungai Tonlesap, eeh tau ga si, kita ketemu Opa hans lagi….yeey jadi seru deh ngobrolnya, yang lucu, opa hans godain Agus, karena katanya tadi ngakunya agus mau tidur habis tutup restoran..eeee gak taunya ketemu lagi nemenin kita jalan-jalan wkwkwkwkw ketauan dech….

Malam semakin larut, dan akhirnya kita harus say goodbye dengan opa hans dan agus, setelah sebelumnya bertukar email dan id facebook. Well, tak ada yang paling indah berada di luar negri bagi kita selain mendapat teman baru yang baik..so back to guesthouse and packing for tomorrow….

Velkommen Guesthouse

Velkommen Guesthouse

Senin, jam 6 pagi kita sudah siap di lobbi untuk menunggu jemputan dari Mekong Express. Tidak lama berselang, mobil jemputannya pun datang, dan kita pun say goodbye dengan staf dari Velkommen, 15 menit berselang, kita sudah sampai di tempat bis menunggu, ransel-ransel kita diberi no untuk dimasukkan ke dalam bagasi bis, paspor kita juga dikumpulkan untuk dicatat, gak lama, kita pun segera naik, enaknya naik bis ini, berapapun yang datang, dia tetap berangkat sesuai jadwal, hari itu, Cuma ada total sektar 15 penumpang. Asik sepi…Bis Mekong Express ini ada toilet di dalam dan ada wifinya…kayak DAMRI gitu dech…jadi gak bengong sepanjang perjalanan, maklum 6 jam loo….. Perjalanan menyebrangi sungai Tonleslap, dilanjutkan dengan mengarungi jalanan di pinggiran kota kamboja, ya berasa kayak pulang kampong kali ye..hihihi. Jam 12 siang, bis berhenti di sebuah resto untuk kita beristirahat dan makan, setengah jam kemudian kita melanjutkan perjalanan ke perbatasan baven, disana paspor kita di cek pihak imigrasi Vietnam, setelah itu kita diminta turun bis untuk foto dan scan jari kita, setelah itu scan barang bawaan kita. Yang lucu, kita uda tegang2 karena tas kita kudu di scan, eh taunya petugas yang jaga, lagi tidur….ngorok pula..wkwkwk. Ampun…ampun….sudah beres, kita pun naik bis lagi dan walaaa sampailah kita di Vietnam, perjalanan masih 1 jam lagi menuju Ho Chi Minh, jadi kita pilih tidur-tiduran aja di bis, secara WiFi nya juga uda off, soalnya uda bukan di Kamboja lagi..xixixi.

3 thoughts on “LADIES TRIP, MENGARUNGI SINGAPURA – PHNOM PENH DAN HO CHI MINH ALA BACKPACKER 8-12 MARET 2013 Phnom Penh – Cambodia

  1. Akhirnya ada yang bikin tulisan tentang Kamboja. 2010, naik taksi dari airport ke muk Weang 8 dolar skrg 9 dolar…. well. Klo warbal, spesialnya sop buntut, maknyuss deh.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s